Refleksi Sumpah Pemuda : Halo Pemuda?
28 Oktober 1928 terjadi peristiwa sejarah ketika pemuda-pemuda dari berbagai pelosok Indonesia berkumpul untuk mendeklarasikan diri sebagai sebuah bangsa yang memiliki satu cita-cita: Merdeka.
Kami Putra-putri Indonesia menyatakan bertumpah darah satu, Tumpah
darah Indonesia
Kami Putra-putri Indonesia menyatakan berbangsa satu, Bangsa Indonesia
Kami Putra-putri Indonesia menyatakan berbahasa satu, Bahasa Indonesia
Cerita dalam sejarah adalah
cerita tentang anak-anak muda. Misalnya Kuntowijoyo mengatakan bahwa akan ada
siklus 20 tahunan tentang terjadinya perubahan oleh pemuda. Misalnya tahun 1879
lahir tokoh seperti kartini, 1908 ada Budi Utomo, 1928 ada sumpah pemuda, 1945
terjadi proklamasi, 1969 penurunan orde lama, 1998 terjadi reformasi. Ya
peristiwa-peristiwa penting itu mungkin bisa maju atau mundur beberapa tahun.
Entah gebrakan apa yang akan dilakukan oleh pemuda pada siklus berikutnya,
tahun 2020an.
***
Sejak semester lalu saya dan
beberapa teman membuat kelompok diskusi “Berjari” yang merupakan usaha
meredakan rasa haus akan ilmu dan ketidakpuasan hanya bergantung pada kuliah
sebagai sumber ilmu. Aktivitasnya yaitu membaca buku dengan tema tertentu, lalu
didiskusikan dan setelahnya masing-masing orang menuliskan interpretasinya.
Latar belakang dari munculnya kelompok ini memang karena dunia mahasiswa yang
kami rasakan terasa sepi akan aktivitas intelektual. Rasanya mahasiswa yang
seharusnya menjadi agent of change
sibuk dengan dirinya sendiri.
Tak terasa saat ini ternyata saya
sudah semester 5. Ketika melihat kebelakang, rasanya sedih karena begitu
sedikit yang telah dilakukan. Entahlah, akhir-akhir ini rasanya saya haus akan
prestasi. Akhirnya, saya iseng mendaftar berbagai macam lomba menulis, forum diskusi,
seminar dan lainnya yang mungkin bisa saya ikuti. Salah satunya Gadjah Mada
Inspiration Forum.
Berawal dari informasi dari grup
whatsapp dan mendaftar pada detik-detik terakhir, alhamdulillah saya terpilih
sebagai salah satu peserta forum itu. Ekspektasi saya dari forum ini yaitu
ingin mencari lingkungan yang bisa mendorong saya untuk lebih produktif.
Ternyata....
Gadjah Mada Inspiration Forum
(GMIF) ini dibuat oleh korps mahasiswa berprestasi UGM untuk memberikan capacity building kepada mahasiswa UGM.
Awalnya saya juga aneh, karena untuk mendaftar forum ini terdapat beberapa
syarat, mulai dari CV berbahasa inggris, membuat 2 essay yang juga berbahasa
inggris, IPK tinggi, dan prestasi.. Ketakutan saya adalah, bila yang diterima
hanya mahasiswa yang telah memiliki prestasi, lalu bagaimana dengan yang belum
memiliki prestasi dan membutuhkan forum-forum inspirasi seperti ini untuk
mendukung mereka. Ya mereka akan tetap tidak berprestasi.. waduhh hehe.
Tapi disamping pikiran itu, saya
sangaattt bersyukur bisa bergabung. Karena berdasarkan acara gathering
pertama,ekspektasi saya sangat bisa tercapai. Saya sangat bersyukur bisa
berkenalan dengan orang-orang dengan kemampuan dan prestasi “mengerikan”.
Bahkan, sepulang forum itu saya harusnya bisa termotivasi untuk lebih banyak
melakukan sesuatu, namun yang terjadi adalah saya merasa kecil dan rendah diri.
Hahahaaa.
Satu hal yang membuat saya yakin
sepulang dari sana, bahwa menjadi mahasiswa ideal itu bukan tidak mungkin.
Sulit, ya pasti. Hal yang saya lihat, saat ini masih ada mahasiswa yang memilih
antara menjadi mahasiswa yang fokus kuliah saja atau sibuk di organisasi
gerakan saja, atau mahasiswa yang sibuk nongkrong dan hidup hedon, bahkan ada
yang sibuk di organisasi tanpa berkontribusi untuk masyarakat sama sekali.
Mahasiswa pintar di UGM sangat banyak, teman-teman yang bisa mendapat IPK
hampir sempurna banyak, yang bisa membuat penelitian-penelitian penting juga
banyak, yang juara-juara lomba apalagi.
Dalam forum GMIF itu, para
mahasiswa berprestasi itu memprovokasi bahwa mahasiswa seperti diatas itu basi.
Hahahaa. Saat ini dibutuhkan mahasiswa-mahasiswa dengan kemampuan super yang
bisa segalanya. Yap, BISA SEGALANYA. Bahwa yang namanya mahasiswa ideal itu
yang memiliki IPK tinggi, memiliki prestasi banyak baik tingkat nasional dan
internasional, mampu membuat penelitian hingga masuk jurnal, memiliki usaha
agar mandiri, ikut exchange keluar negeri agar bisa mengetahui bagaimana negara
lain berkembang dan mata lebih terbuka lebar, tetap aktif di organisasi, dan
yang terpenting memiliki project sosial untuk berkontribusi bagi masyarakat. Untuk
mendukung itu semua, dibutuhkan networking. Karena walaupun kita punya ide
hebat bila tidak didukung oleh orang atau lembaga yang seusai, maka ide itu
akan terus menjadi ide, tak pernah jadi kenyataan.
Nasihat-nasihat untuk itu mungkin
sudah sering kita dengar. Namun melihat langsung orang-orang yang telah
mencapai itu dan berkumpul dalam satu
forum rasanya lebih meyakinkan. Sepulang dari sana, tentu saja saya penasaran
dengan mereka dan ingin membuktikan kehebatan mereka. Hahahaa. Caranya ya
dicari di google lah. Hasilnya: Keren.
Pada hari sumpah pemuda kemarin
juga ada kelompok mahasiswa yang berdemo hingga mengakibatkan kemacetan.
Padahal, kalau katanya Kennedy, tidak tepat bila kita terus menuntut negara
untuk menyelesaikan masalah, namun harusnya kita pun ikut menyelesaikan masalah
tersebut. Dan ternyata memang banyak cara mahasiswa untuk menyelesaikan
masalah, bukan hanya menuntut orang lain untuk menyelesaikannya. Kalo katanya
Anies Baswedan “ayo turun tangan”, hehe.
Ketika rasa rendah diri itu
datang yang akhirnya menyebabkan saya “sulit” bergerak, saya mencoba mengingat
puisi dewi lestari yang di katakan mas Regis bahwa..
Bunga tak pernah tahu bahwa wanginya harum.
Burung tak pernah tahu bahwa suaranya merdu.
Dan Kupu-kupu tak tahu bahwa
sayapnya indah.
Dan mungkin kita belum tahu bahwa
kita juga memiliki kemampuan yang spesial. Jadi, yuk ikut mengisi kemerdekaan
dengan prestasi dan kontribusi. Sudah cukup menuntut orang lain menyelesaikan
masalah yang kita sadari.


Komentar
Posting Komentar