Siapa Yang Menginspirasimu?
Ada yang bilang bahwa “Saya yang
sekarang adalah akumulasi dari saya di masa lalu”. Ketika ada yang bertanya,
siapa yang menginspirasi apa yang ingin, sedang dan akan kamu lakukan, maka
jawabannya tentu adalah pengalaman melihat kenyataan entah yang indah dan yang kejam
serta bertemu dengan banyak orang luar biasa atau yang biasa-biasa saja. Tapi
karena pertanyaannya adalah siapa maka tentu jawabannya adalah sebuah nama.
Hehe
Pendidikan pertama seorang
manusia “normal” tentu saja adalah keluarga. Begitu pula saya. Bapak dan Mamak
merupakan orang pertama yang menceritakan tentang hebatnya dunia dan kejamnya
persaingan. Mereka bisa dibilang cukup berfikir terbuka, tidak sangat terbuka.
Namun itu cukup memantik saya untuk berfikir lebih bebas lagi. Sejak kecil,
saya sudah terbiasa mendengarkan mereka berbicara tentang masalah TKI dan
pemberdayaan perempuan yang merupakan pekerjaan Mamak saya. Lalu Bapak yang
selalu menemani dan mendengarkan setiap kata-kata saya entah itu cerita saya
berkelahi dengan teman, stres karena tidak bisa mengerjakan tugas sekolah
dengan baik, keinginan yang tak ada habisnya, dan kekecewaan-kekecewaan karena
ternyata tak semua keinginan bisa dipenuhi. Ya maaf, karena ternyata sejak
kecil saya memang seorang koleris yang selalu ingin dituruti. Ya mereka adalah
inspirator saya. Bahkan kegagalan-kegagalan mereka juga yang mendorong saya
untuk menjadi yang lebih baik. Pengalaman memang guru yang paling kejam, karena
kita harus merasakannya dulu baru bisa belajar. Hee.
Mamak yang bekerja dibidang
sosial membuat saya sadar, bahwa dia memang memiliki peran dan kontribusi
penting. Saya melihat sendiri bagaimana dia bekerja. Melelahkan sekali bekerja
dengan masyarakat. Butuh waktu lama dan kesabaran tak terbatas, padahal
tujuannya membantu masyarakat itu sendiri. Oke, saya sadar bahwa dibutuhkan
orang-orang hebat dibidang yang dia geluti. Pekerjaan yang dia lakukan tidak
mudah, namun ternyata dibayar murah.
###
Latar belakang ekonomi keluarga
mamak dan bapak saya bisa dibilang miskin. Namun diantara mereka, ternyata ada
yang berani menantang dunia demi keluar dari “kemiskinan turunan” yang dialami.
Namanya Ali Bin Dahlan. Dia adalah saudara tiri kakek saya dari pihak Mamak.
Sejak kecil saya terbiasa
mendengarkan cerita tentang perjuangan Ali BD dari mamak, bapak, nenek, kakek,
paman, bibi, bahkan dari teman-teman orang tua saya. Ceritanya, dari kecil saya
memang kepo dan senang mendengarkan pembicaraan orang-orang dewasa. Hehe.
Walaupun waktu kecil saya tidak terlalu memahami tentang politik, kondisi
sosial ekonomi masyarakat Lombok, serta gebrakan-gebrakan yang dia lakukan.
Sekarang, ketika saya mulai banyak baca dan belajar, saya mulai paham..
Keluarga mamak saya selalu bercerita
(dan diulang-ulang) bahwa Ali BD itu satu-satunya diantara saudara-saudaranya
yang bersemangat untuk sekolah. Walaupun untuk sampai ke sekolah dia harus
berjalan berkilo-kilometer. Dia adalah orang yang rajin membaca, saking
rajinnya, saat berjalan pun dia membaca buku, tidak jarang akhirnya dia
menabrak pohon saat berjalan karena terlalu asyik membaca.
Mamak dan Bapak saya begitu
bersemangat menceritakan pemikiran-pemikiran Ali BD yang ternyata memang
futuristik. Pemikiran-pemikirannya bisa dibilang “nyeleneh” bila dibandingkan
pemikiran mainstream masyarakat di
Lombok. Hal ini tidak aneh karena dia berteman dengan orang seperti Gus Dur, ya
mungkin nyeleneh nya Gus Dur nular kali ya. Tentu tidak memuaskan hanya
mendengar cerita dari orang tua saya yang memiliki kedekatan emosional dengan
Ali BD. Ya akhirnya saya kepo mencari informasi di media dan buku biografinya.
Ternyata untuk menjadi “nyeleneh”
dan memiliki kekuasaan untuk membuat perubahan sosial di masyarakat, Ali BD
memang memiliki buanyak pengalaman. Mulai dari menjadi aktivis sejak sekolah,
menjadi wartawan di media nasional, menjadi PNS, menjadi kepala sekolah di
Ma’arif, menjadi pengusaha, membuat LSM pertama di NTB, membangun universitas
gunung rinjani (UGR), membuat media selaparang tv dan duta selaparang koran, hingga
politisi.
Bisa dibilang, dia sangat cerdas
membuat strategi sehingga memiliki banyak “pengikut” setia ataupun “pengikut”
yang setianya kadang-kadang. Hal ini membuat saya cukup terkagum-kagum. Bukan
berarti selalu sepakat dengan caranya, cuma ya sering terkaget-kaget dengan
keberaniannya berfikir dan melakukan hal yang berbeda dari orang lain.
Keberaniannya berbeda tentu bukan tanpa pertimbangan, namun masalahnya orang
baru paham maksudnya ketika hal itu sudah berjalan. Haha.
Dia sadar bahwa untuk menyebarkan
dan melaksanakan ide-idenya dibutuhkan modal. Maka diapun menjadi pengusaha
hingga membuat Bank Samawa Kencana yang sekarang memiliki kantor cabang se-
NTB. Salah satu strateginya berkontribusi untuk masyarakat yaitu politik dan akhirnya
terpilih sebagai Bupati di Lombok Timur, NTB.
Hal yang menarik adalah,
latarbelakangnya yang sebenarnya civil
society dan terbiasa mempersiapkan dan memprovokasi mahasiswa dan LSM untuk
melakukan demo, namun kali ini dia yang giliran di demo. Lalu bagaimana
responnya ? Ketika di demo saat menjadi bupati katanya mamak saya ya dia akan
senyum-senyum saja. Dueeeng.
Saya memang tidak bisa
menceritakan banyak interpretasi saya tentang Ali BD. Tapi saya cukup terpesona
dari pemikiran-pemikirannya,wawasannya yang luas, hasil penelitiannya tentang
budaya sasak, kebijakan-kebijakannya yang nyeleneh, hingga strategi politiknya
yang menarik. Tentu saja beliau tidak lepas dari kritik, dan saya sangat
terinspirasi dari kritik orang kepada beliau serta bagaimana beliau merespon
kritik tersebut. Ya menarik.
###
Satu lagi orang yang
menginspirasi saya. Namanya Nyayu Ernawati, yaitu Bunda nya anak-anak di Kota
Mataram, NTB. Dimasa remaja saya yang
penuh tanda tanya, kegelisahan melihat realitas yang timpang di masyarakat, dan
usaha untuk menggebrak kenyataan untuk membuat perubahan, saya bertemu dengan
seorang politisi yang hebat sebagai anggota DPRD Kota Mataram periode 2009-2014.
Sejak kecil saya selalu skeptis
melihat kenyataan, salah satu penyebabnya kebijakan politik yang tidak berpihak
pada rakyat. Saya melihat, mendengar, dan mempelajari betapa kotornya dunia
politik. Sehebat apapun kampanye yang disampaikan sang politisi pasti tujuannya
adalah mendapatkan kekuasaan. Dan saya tahu bahwa itu tidak apa-apa, karena
politik memang tentang bagaimana mendapatkan kekuasaan, entah apapun tujuannya
(mau mensejahterakan rakyat atau memperkaya diri sendiri dan partai). Sama
seperti ketika berbicara ekonomi kita tidak bisa melarang orang untuk berusaha
kaya, karena kegiatan ekonomi memang tujuannya supaya kaya.
Berkenalan dengan Bunda Nyayu
Ernawati membuat saya berfikir kembali. Bahwa masih ada politisi yang bisa
berpihak pada rakyat. Saya berani mengatakan bunda nyayu ernawati contoh
politisi yang hebat bukan karena berita di media atau kata-katanya yang
optimis, utopis dan menggebu-gebu. Kalau politisi yang katanya hebat dimedia
kan seperti Tri Rismaharini, bima aria atau ridwan kamil, ya saya sih
percaya-percaya saja, namun tidak terlalu heboh terinspirasinya karena hanya
mendengar ceritanya saja. Hehe.
Tapi dengan Bunda Nyayu Ernawati,
saya pernah bersama dengan beliau mulai dari pagi hari bangun tidur hingga
tidur lagi. Saya pernah mengikuti aktivitasnya seharian, mengetahui apa saja
yang dia kerjakan, serta memahami bagaimana pandangannya. Saya mengetahui
bagaimana dia berkomunikasi dengan masyarakat, sesama politisi, partainya,
keluarganya, teman-temannya dan anak-anak. Melihat langsung membuat saya lebih
percaya.
Bunda Nyayu Ernawati memberikan
saya contoh bahwa politik tidak selalu kotor. Politik itu alat, tergantung mau
dipakai untuk apa. Dan kata-kata mensejahterakan rakyat bukan hanya menjadi
jargon dan wacana, tapi harus menjadi konkrit. Dia tak pernah segan untuk
datang langsung ke masyarakat yang membutuhkan bantuan, tidak takut
“menyeruduk” eksekutif yang kerjanya kurang bagus, dan ikut langsung
menyelesaikan masalah di masyarakat.


Komentar
Posting Komentar