Patriarki Juga Menyakitimu Bro..


Ketika membahas tentang ketidakadilan gender yang ada dalam masyarakat, para laki-laki langsung menghindar karena takut disalahkan. Ketika membicarakan feminisme, yang terpikirkan langsung para perempuan yang menggugat relasi kuasa di masyarakat. Bahkan yang terpikir adalah perempuan yang anti laki-laki. Tapi ya itu harus di maklumi, namanya juga tidak paham.
Suatu kali saya melihat CV seorang teman, disitu tertulis “Gender : Female”. Jujur saya kaget. Padahal gender itu tidak sama dengan jenis kelamin. Akhirnya ya saya menjelaskan bahwa seks itu berbeda dengan gender. Seks itu adalah jenis kelamin. Seks itu ada penis dan ada vagina. Seks itu bersifat universal, jadi sama diseluruh dunia, ya mungkin ya berbeda hanya warna dan ukurannya. Haha.
Jadi, gender itu apa? Gender itu identitas sosial, atau disebut juga jenis kelamin sosial. Gender itu sifat-sifat yang diidentikan kepada masing-masing jenis kelamin oleh masyarakat. Dan setiap masyarakat berbeda-beda dalam mengidentikan sifat masing-masing jenis kelamin, jadi gender ini bisa dibolak-balik. Misalnya, laki-laki diidentikan maskulin. Maskulinnya laki-laki diidentikan dengan laki-laki harus tegas, berwibawa, pekerja keras, pemberani, dan logis. Sedangkan perempuan diidentikan feminin, contohnya perempuan itu orangnya cengeng, mengayomi keluarga, sabar, penuh kasih sayang, telaten, dan bekerja di sektor domestik.
Oke, coba kita ingat-ingat, adakah perempuan yang tegas? Banyak. Adakah laki-laki yang cengeng? Ya banyak juga. Tapi, masalahnya di masyarakat, perempuan dan laki-laki “dipaksa” untuk memiliki sifat-sifat itu dan melakukan hal-hal yang ditentukan oleh masyarakat. Namun, apabila ada orang yang tidak sesuai dengan aturan tersebut, ya diakan menjadi “aneh” di masyarakat. Misalnya, kalau ada perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga akan di gosipkan oleh masyarakat. Atau bahkan kalau ada laki-laki yang suka bekerja di sektor domestik juga akan di bicarakan oleh masyarakat.
Saya menulis ini merupakan sedikit dari hasil refleksi belajar teori feminisme dan melihat bahwa ternyata konstruksi gender ini memang menyakiti. Namun, yang tersakiti itu tidak hanya perempuan, namun juga laki-laki. Misalnya, sejak kecil anak-anak laki-laki sudah di ajarkan bermain bola, bermain perang-perangan, atau bermain apapun yang sifatnya fisik. Padahal, bisa jadi mereka ingin bermain yang lainnya. Dulu saya ada seorang teman laki-laki yang ternyata dia senangnya bermain jual-jualan, lalu main karet.. tapi dia diejekin oleh teman-teman. Bahkan dimarahi oleh orang-orang dewasa karena senangnya main permainan anak perempuan. Sekarang saya berfikir tentang itu, ternyata mainan anak-anak saja ditentukan. Hahahaa.
Sejak kecil, anak laki-laki sudah diajarkan bahwa laki-laki tidak boleh cengeng. Akibatnya, saya melihat sekarang teman-teman laki-laki tidak terbiasa untuk mencurahkan perasaannya. Padahal kalo kita belajar psikologi, bukankah semua orang punya perasaan? Apabila perasaannya dipendam dan tidak dikeluarkan, maka akan stres dan mungkin akan meledak. Saya sadar bahwa masalah psikologi bisa jadi lebih menyakitkan dan bisa lebih berbahaya dari masalah fisik. Kalau melihatnya dari sudut pandang ini, ya saya tidak kaget kalau gara-gara ini makanya laki-laki umurnya lebih pendek dari perempuan. Hehee.
Masyarakat kita, mengidentikan laki-laki bekerja di luar rumah dan tidak perlu untuk mengurus rumah dan merawat anak. Entahlah, saya tidak terlalu menyepakati ini. Anak yang dilahirkan perempuan juga merupakan anak dari laki-laki. Dan laki-laki juga punya tanggungjawab untuk merawat, mendidik dan juga melindungi anak tersebut.
Akhirnya saya juga mengingat bagaimana kondisi rumah saya sendiri. Waktu kecil, mamak saya yang bekerja, bapak saya yang memasak dan mengurus rumah. Jadi saya bingung ketika diajarkan membaca “Ayah berangkat ke kantor, Ibu memasak didapur”. Ya kali, dirumah saya malah kebalik. Hehe. Tapi yang menarik adalah ternyata bapak saya yang memasak dan mengurus anak di anggap aneh oleh masyarakat. Bahkan katanya dulu waktu saya kecil di mandiin oleh bapak malah ditonton sama tetangga-tetangga. Hahaha #dimaklumi.
Tapi disisi lain, teman-teman sebaya saya tidak berkomunikasi dengan ayahnya seperti saya. Teman-teman saya yang ayahnya bekerja dan menyerahkan pengurusan anak kepada ibu sepenuhnya, tidak berani kepada ayahnya. Menyedihkan sebenarnya, karena mereka tidak terbiasa membicarakan tentang hari-hari mereka dengan ayahnya, bahkan masalah-masalah apa yang mereka hadapi. Jujur saya kasihan dengan teman-teman itu. Karena memiliki bapak yang selalu ada untuk mendengarkan itu sangat menyenangkan, bahkan sangat membantu untuk menyelesaikan hal-hal yang memang tidak kita mampu. Haha. Saya jadi ingat dulu ada tugas kelompok membuat peta indonesia, mengerjakannya di rumah saya, dan karena bapak saya tidak tega melihat kami tidak bisa-bisa membuat peta dengan baik ya akhirnya dia turun tangan mengajarkan membuat peta itu.
Berdasarkan salah satu penelitian, ternyata anak-anak yang dekat dengan ayahnya maka anak tersebut akan lebih cerdas dalam bahasa dan juga logika. Astaga, jangan sampai masalah kedekatan ayah dan anak ini mengakibatkan anak-anak indonesia jadi bodoh cuma gara-gara ayahnya tidak sempat ngobrol dengan anaknya sepulang kerja. Hiks.
Tapi, kan sungguh menyedihkan bila seorang ayah tidak mengetahui bagaimana anaknya, aktivitas apa saja yang diikuti anaknya, serta apa saja masalah yang dihadapi. Akibatnya ya anak-anak tidak percaya bahkan tidak berani untuk curhat pada ayahnya. Padahal kan ayah punya tanggungjawab melindungi anak, tapi kalau tidak tahu gimana coba caranya melindungi.
Budaya patriarki (mengutamakan laki-laki dan menggunakan standar laki-laki) yang berkembang di masyarakat, tidak seluruhnya menguntungkan laki-laki. Namun bisa menyakiti laki-laki sendiri. Bukankah menyakitkan bila sejak kecil laki-laki diajarkan untuk menjadi orang yang kuat, tidak boleh emosional atau menangis, bermain dengan hal-hal yang bersifat fisik (sedangkan fisiknya tidak terlalu kuat), ketika beranjak dewasa dikonstruksi harus “nakal” kalau mau dianggap keren, hingga ketika dewasa tidak memiliki kedekatan dengan anaknya.

Komentar

  1. Assalamu'alaikum Wr. Wb. ini benar dengan mba Nitia yang jadi 10 besar di lomba ini http://bemjiai.blogspot.com/2014/10/pengumuman.html ?

    kalo iya, salam kenal mba. Saya Irfan--mahasiswa UPI Bandung. Saya tertarik untuk baca esainya mba, kalo berkenan saya mau minta esainya. Terimakasih \
    Wassalamu'alaikum

    BalasHapus
  2. Nice article. Menurut kamu, idealnya apakah konstruksi gender yang ada saat ini perlu dihapuskan? Atau diacuhkan saja, dianggap tidak ada karena sebenarnya konstruksi tsb hanya bentukan nonformal masyarakat yang lama-kelamaan juga paham sendiri?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf baru membalas komentarnya. Terima kasih sudah membaca artikel ini. Karena konstruksi gender yang ada sekarang adalah bentukan manusia, jadi apabila konstruksi tersebut mengakibatkan ketidakadilan seperti kekerasan dan diskriminasi, maka menurut saya konstruksi tersebut dapat dan harus diubah :)

      Hapus

Posting Komentar