Hari Kartini
Kemarin saat makan
siang disalah satu fastfood dekat kampus, terlihat ayah dan anak yang sedang
makan, ya itu memang biasa. Namun, si anak yang terlihat masih SD menggunakan
baju kebaya, kerudung modifikasi dan sepatu high heel sekitar 5cm. Dan saya pun
teringat, ternyata hari ini 21 April dan merupakan hari kartini. Astagaa, haha.
Saya pun teringat
dulu ketika masih SMP dan ada perayaan Hari Kartini. Semua teman-teman sibuk
mencari salon dan menyewa kebaya terbaik yang bisa ditemukan. Tujuannya jelas,
yaitu “kapan lagi bisa pake kebaya, dandan dan terlihat cantik dan anggun oleh
teman-teman sekolah”. Bahkan, ketika
saya pun datang ke salah satu salon yang dikelola oleh teman bapak saya,
ternyata kebaya disana sudah banyak dipinjam, bahkan katanya, sudah gag bisa
dandan disana, karena antriannya sudah banyak yang akan berdandan mulai jam 3
pagi besok. Astaga, agag menyeramkan sebenarnya, harus bangun pagi-pagi,
berebutan di dandani di salon dan bayar mahal demi terlihat “cantik dan anggun”
pada perayaan Hari Kartini. Padahal, bentuk perayaannya adalah upacara di
sekolah namun menggunakan pakaian adat. Hehe.
Ketika mengingat
lagi peristiwa itu saya pun tertawa miris, karena teringat semangat Kartini
sebenarnya seperti apa. Teringat ketika membaca salah satu biografi Kartini
yang ditulis oleh Pramoedya Anantatoer yang berjudul “Panggil Aku Kartini
Saja”. Bahkan hingga kini ketika menjadi mahasiswa pun ritual perayaan hari
kartini pun masih seperti itu. Misalnya, seperti yang saya temukan di tempat
makan fastfood itu, anak-anak sekolah disuruh mengingat Hari Kartini dengan
cara menggunakan baju kebaya. Lalu dikalangan mahasiswa pun merayakan hari
Kartini dengan cara mengadakan lomba masak. Apakah ini yang dicita-citakan
Kartini? Entahlah. Sepertinya setiap orang punya interpretasi sendiri. Namun
yang berbahaya adalah ketika orang tidak berusaha mencari tahu informasi yang
sebenarnya tentang kepahlawanan Kartini, dan hanya menerima “simbol” perayaan
Hari Kartini sebagai suatu ritual semata.
Dalam buku “Panggil
Aku Kartini Saja”, Pram menceritakan tentang bagaimana Kartini melihat
penjajahan yang dialami oleh bangsanya. Kartini pun sadar bahwa dia dan
bangsanya belum merdeka. Hal ini dikarenakan adanya sistem kolonialisme
Belanda, dan feodalisme yang masih dianut oleh bangsanya sendiri. Hal yang
paling terlihat dari Kartini mungkin adalah kesadaran, kepekaan dan
keprihatinannya pada bangsanya yang tertinggal dan terjajah.
Padahal Kartini
adalah seorang keturunan priyayi. Namun ternyata dia menolak feodalisme dalam
bentuk apapun, bahkan di dalam keluarganya. Judul buku “Panggil Aku Kartini
Saja” ini pun sebenarnya merupakan bentuk penolakannya pada feodalisme. Kartini
tidak ingin di panggil Raden Ajeng atau Raden Mas Ayu, namun dia ingin dianggap
sama dan sederajat dengan perempuan pribumi lainnya. Namun, yang berbeda adalah
Kartini mendapatkan pendidikan karena Ayahnya adalah priyayi, dan memberikan
kesempatan anak-anaknya untuk merasakan pendidikan.
Saat ini perayaan
Hari Kartini dilakukan dengan menggunakan simbol-simbol kebaya, sanggul hingga
memasak. Hal itu sangat berkaitan dengan peran perempuan disektor domestik. Padahal
berdasarkan surat-surat Kartini dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”
diceritakan bahwa Kartini sangat ingin mengembangkan dirinya dan bisa menikmati
dunia pendidikan di negara Belanda. Dia sadar bahwa sistem feodalisme yang
mengungkungnya selama ini bukan sesuatu yang benar. Seharusnya semua orang
diberikan kesempatan untuk belajar. Bahkan bagi perempuan.
Walaupun dia terkungkung dalam dogma feodalisme, serta
pendidikan yang ketat dari ayahnya, Kartini menerima saja. Dalam buku Pram
mengatakan bahwa walaupun dipingit, Kartini tak memiliki kemarahan di hatinya.
Bahkan ketika dia harus menikah, bahkan dengan orang yang jauh lebih tua
darinya.
Bentuk perlawanan
Kartini terhadap sistem feodalisme dan kolonialisme adalah menulis. Inilah
perbedaan Kartini dengan pahlawan lain, karena bisajadi banyak pula
perempuan-perempuan yang berjuang namun mereka tak tertulis dalam sejarah dan
mereka pun tak menulis. Melalui tulisannya ini Kartini dikenal di negara
Belanda , bahkan memunculkan banyak simpati dari orang-orang Belanda. Kartini
berusaha membuktikan bahwa perempuan juga bisa berfikir layaknya laki-laki.
Kartini juga
berusaha memperkenalkan hasil kerajinan anak pribumi yaitu khas ukiran Jepara
hingga akhirnya bisa menembus pasar Eropa. Sehingga bisa meningkatkan
perekonomian masyarakat pribumi pada
saat itu. Kartini juga sadar bahwa salah satu masalah kaum pribumi adalah
pembodohan yang disengaja oleh penjajah. Maka dia pun membuat sekolah agar
anak-anak bisa membaca dan menulis, sehingga tidak “dibodoh-bodohi” oleh
penjajah.
Jadi, akan sangat lucu bila kita merayakan Hari Kartini dengan
menggunakan simbol-simbol feodalisme yang sebenarnya dilawan oleh Kartini.
Komentar
Posting Komentar