Pegawai Negeri itu Pelayan Rakyat dan Dibayar juga sama Rakyat!!
Anda tidak akan pernah memahami birokrasi, sampai anda memahami bahwa
prosedur bagi birokrat adalah segalanya. Dan hasil tidak berarti sama sekali. (Thomas
Sowell)
Begitu sulit memahami demokrasi, bahwa keterlibatan dalam proses untuk
memperoleh pertanggungjawaban adalah segalanya. Serta tidak begitu peduli
dengan Efisiensi dan Efektifitas. (Harry H. Saleh)
Kata-kata
diatas cukup memberikan gambaran kepada saya bahwa sikap skeptis saya selama
ini mungkin benar. Akhir-akhir ini saya bergelut dalam kegiatan yang melibatkan
birokrasi pemerintahan. Kata yang terpikir ketika bekerja adalah REMPONG.
Entahlah, saya berusaha menikmati setiap apa yang saya kerjakan, karena semua
hal adalah proses belajar dan harus dinikmati, kalo gag ya ntar bisa stres.
Tapi yang membuat bingung, bukankah seharusnya kita bekerja selain memang untuk
memenuhi kebutuhan hidup tapi juga untuk membantu orang lain. Sesuai dengan
bidang pekerjaan kita masing-masing, karena berkontribusi untuk orang lain
adalah nasihat dari setiap agama yang ada. Yang terpenting adalah, seharusnya
berbuat baik adalah panggilan hati nurani dan rasa kemanusiaan kita.
Tapi ternyata
banyak orang/birokrat yang bekerja hanya karena disuruh oleh pimpinannya.
Bahkan, mungkin ini salah satu studi kasus atau memang terjadi dimanapun, saya
merasa bahwa pegawai negeri itu bekerja ketika “dilecut”. Bila tidak disuruh
maka tidak bekerja. Tidak ada inisiatif. Kok bisa begitu ya? bukankah mereka
adalah pelayan masyarakat? bukankah mereka bisa menjadi pegawai negeri melalui
proses yang panjang, sulit, dan bersaing dengan ribuan orang? lalu mengapa
mereka bekerjanya seperti tidak bersemangat, terlihat bekerja karena itu hanya suatu
keharusan saja? Padahal, bila melihat proses seleksi pegawai negeri, seharusnya
yang terpilih adalah orang-orang terbaik diantara semua yang melamar.
Dan yang tidak boleh dilupakan adalah, mereka
dibayar oleh pajak. Yang mungkin tidak disadari oleh pegawai negeri itu
sendiri, atau oleh rakyat. Karena setiap saat rakyat itu bayar pajak, entah
ketika makan di restaurant, membayar parkir, belanja kebutuhan pokok, dan
sebagainya.
Selain masalah
semangat dan kualitas kerja pegawai negeri yang agag kurang. Prosedur yang
berbelit-belit juga membingungkan. Tidak bisa dipungkiri, itu sangat
menghambat. Hal yang juga mengecewakan saya adalah, kesan yang saya dapat
adalah bahwa pegawai negeri itu bekerja untuk menghabiskan dana dan tidak bisa
bekerja tanpa dana. Ya saya juga mengakui bahwa dana itu penting. Tapi
gara-gara birokrasi yang berbelit, kegiatan menjadi sulit berjalan dengan baik.
Misalnya,
tahun anggaran 2014 itu dananya baru cair sekitar bulan april, sedangkan
program itu seharusnya sudah berjalan sejak februari. Sehingga akhirnya pada
bulan april dan seterusnya program akan menumpuk. Padahal pada bulan-bulan itu
seharusnya sudah mempersiapkan untuk
Anggaran Perubahan (APBD Perubahan). Dan hasilnya, program tidak bisa berjalan maksimal karena orientasinya adalah yang penting
program itu berjalan, dananya habis, dan laporannya bagus. Sangat
mengecewakan sebenarnya, melihat “tulang punggung” pemerintahan bekerja tidak
maksimal.
Sumber foto: www.acehterkini.com
Sumber foto: www.republika.co.id
Agag lucu
rasanya ketika menonton film korea, ternyata kalo disana pegawai negeri itu
bukanlah pekerjaan yang bagus dan diperebutkan seperti di Indonesia. Di Korea,
menjadi PNS itu adalah benar-benar menjadi pelayan masyarakat, mengayomi
masyarakat, harus ramah, dan sebagainya. Bahkan gajinya pun kecil bila
dibandingkan profesi lain disana. Berbeda dengan di Indonesia. Pegawai negeri
disini status sosialnya meningkat dan gajinya naik terus setiap tahun. Haha..
ya walaupun sebenarnya gaji naik tiap tahun, tapi harga kebutuhan pokok juga
terus meningkat. Jadi ya sama aja.


Komentar
Posting Komentar