Belajar dari Film Parental Guidance



Film ini bercerita tentang sebuah keluarga, sepasang ayah ibu dengan 3 anak yang memiliki masalah masing-masing dalam proses tumbuh kembangnya. Ayah dan ibu yang modern itu pun mencoba menyelesaikan masalah anak-anak mereka dengan cara yang menurut mereka baik dan benar. Hal yang menarik dari film ini muncul ketika pasangan ayah ibu ini harus pergi selama beberapa hari dan harus meninggalkan anak-anaknya bersama nenek dan kakeknya dari pihak ibu. Pasangan ini sangat takut meninggalkan anak-anak mereka karena mereka berfikir bahwa nenek dan kakek itu tidak memahami kebutuhan anak-anak mereka dan pasti tidak bisa menjaga mereka dengan baik. Pasangan ini bisa dikatakan sangat perfeksionis berkaitan dengan cara mendidik anak-anak mereka.
Anak perempuan mereka yang berusia 12 tahun memiliki kemampuan untuk bermain biola dan sangat haus prestasi. Saking haus prestasi nya, si anak perempuan tak pernah terlambat sekalipun ke sekolah, serta tidak mau ikut bermain dan bersenang-senang seperti teman sebayanya karena takut kalau itu akan mengganggu nya untuk mencapai prestasi yang diinginkan. Dan orang tuanya pun sangat membantu untuk mempertahankan kedisiplinan itu. Anak laki-laki kedua mereka ternyata sangat pemalu, gagap, serta merasa rendah diri menghadapi teman-temannya. Akhirnya orangtuanya pun membantu anak ini dengan mengikuti terapi untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan anak laki-laki terakhir mereka memiliki teman khayalan berupa kangguru yang selalu didengarkan oleh si anak. Menghadapi “keanehan” tersebut, orang tuanya pun berpura-pura menyadari kehadiran teman khayalan anaknya itu, karena takut menyakiti hati anaknya. 
Film ini cukup lucu, yaitu saat melihat keterkejutan kakek dan neneknya melihat keadaan cucu-cucu mereka, dan berusaha beradaptasi agar cucu-cucu nya merasa senang di asuh oleh mereka. Padahal sebenarnya kakek dan nenek itu merasa bahwa harusnya si anak perempuan lebih menikmati masa-masa bermainnya. Anak kedua harusnya dibantu untuk meningkatkan kepercayaan dirinya tidak harus dengan terapi. Serta anak ketiga harus disadarkan bahwa teman bayangannya tidak benar-benar ada.
Dalam cerita tersebut, Si Ibu tidak mempercayai orang tuanya karena merasa tidak bahagia ketika dia masih kecil. Dia merasa bahwa orangtuanya tidak bertanggungjawab dan tidak bisa mendidik dengan baik. Sehingga sulit baginya memercayai pengasuhan anak-anak nya pada orang tuanya. Padahal, orangtuanya merasa bahwa mereka telah mendidik putrinya dengan sangat baik dan penuh kasih sayang, sehingga mereka bingung kenapa putri mereka tidak memercayai mereka untuk mengasuh cucu-cucu mereka.
Latar belakang film itu cukup menarik untuk menghantarkan nilai dari film ini. Bahwa ternyata pola asuh orang tua itu berbeda-beda, namun tujuannya tetaplah demi kebaikan anak tersebut. Tak pernah ada niat buruk dari orang tua, walaupun mungkin mereka melakukan beberapa kesalahan yang pasti tidak pernah disengaja. Miris ketika melihat bahwa, ternyata memang ada anak yang “tidak puas” dengan asuhan orang tuanya seperti tokoh Ibu di film ini. Padahal, kalau boleh disanggah, yang membuat Si Ibu menjadi sehebat saat ini adalah didikan dari orangtuanya juga.
Sebuah keluarga yang utuh terdiri dari 2 pasang kakek nenek, satu dari pihak ibu, dan satu dari ayah. Hal yang menyedihkan seperti dalam film ini adalah bila ada yang lebih disayang oleh cucu-cucunya. Atau cucu-cucunya lebih senang menghabiskan waktu bersama salah satu kakek neneknya. Dan yang lebih menyedihkan lagi bila kakek nenek yang “tidak menjadi favorit” itu menyadari bahwa cucu-cucu mereka tidak nyaman bersama mereka.
Jadi, mungkin parenting school itu memang penting. hehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pegawai Negeri itu Pelayan Rakyat dan Dibayar juga sama Rakyat!!

Mari Bertanya!

Apa Kabar Pers di Indonesia?