Kenapa Sih Orang Harus Nikah ?

Akhir-akhir ini saya berfikir tentang banyaknya teman-teman yang sudah nikah, bahkan yang bersemangat ingin menikah, hehe. Teman-teman SD dan SMP saya sejak dulu sudah banyak yang menikah, bahkan sekarang anak-anak mereka sudah besar-besar. Sekarang, diantara sibuknya dunia kampus, ternyata banyak juga teman-teman yang menikah. Melihat lebih luas lagi, pernikahan di dalam sebuah masyarakat merupakan hal yang terjadi setiap hari. Oke, jadi ternyata pernikahan itu adalah hal yang biasa.
Tapi mungkin karena kebiasaan otak saya yang suka mencari-cari hal yang abu-abu dari sebuah fenomena biasa membuat saya berfikir kembali, kenapa sih orang harus menikah. Ketika saya bertanya, seorang teman menyatakan “Ya harus nikah dong, masak mau hidup sendiri terus. Nanti gag punya anak, terus gag ada yang ngurusin waktu tua”.  Mendengar jawaban itu, saya jadi berfikir, apakah pernikahan itu seperti sebuah transaksi saja. Bahwa seseorang menikah dengan mengorbankan kebebasan dan menambah beban berkeluarga supaya masa tua nya ada teman dan supaya ada anak yang mengurus nya. Saya takut bila ini menjadi sebuah realitas.
Ada juga jawaban bahwa “Dalam agama Islam menikah itu merupakan penyempurnaan agama, karena kalau belum menikah Islamnya baru setengah, kalau menikah maka menjadi penuh dan sempuarna”. Hehe, bisa jadi ini benar, tapi kan tidak ada jaminan menikah pasti masuk surga, bahkan tidak sedikit saya melihat pernikahan yang hanya menambah dosa. Hehe.
Saya tidak bilang menikah itu salah atau tidak perlu. Tulisan ini hanya ingin mencari tahu sebenarnya mengapa orang menikah dan realitas seperti apa yang ditemukan seseorang ketika menikah. Tapi karena saya belum menikah, jadi sumber informasinya hanya dari observasi dan wawancara (hehe, padahal sih iseng bikin tulisan ini).
Saya melihat banyak sekali wajah pernikahan disekeliling saya. Akhirnya, ada tiga kesimpulan yang saya ambil. Pertama, bahwa ada pernikahan yang katanya atas dasar cinta yang ternyata hancur menjadi keterkungkungan yang menyedihkan. Kedua, Pernikahan sebagai cara melarikan diri  yang menjadikan pernikahan itu penuh keputusasaan. Ketiga, Pernikahan karena kewajiban yang tidak pernah berubah menjadi apapun.
Sedih sebenarnya karena melihat fenomena diatas. Misalnya, banyak orang masa pacarannya mesra banget, pasangannya perhatian banget, eh ternyata ketika menikah tidak begitu lagi. Bahkan pernah saya mendengar ibu-ibu yang bercerita bahwa mereka untuk mengajak suami pergi piknik harus minta izin beberapa minggu sebelumnya. Kok si istri jadi takut gitu sama suaminya, entahlah.
Seorang tema  menjelaskan ketika saya bertanya, kenapa sih mereka menikah. Padahal si perempuan itu karirnya bagus, mapan secara ekonomi dan bisa dibilang sukses. Jawabannya adalah “Capek tau menghadapi dunia ini sendirian. Beban kerja yang berat dan juga masalah yang datang pergi tidak bisa di tanggung sendiri, kita butuh teman tempat bersandar”. Astaga, oke berarti dia tidak sekuat yang saya yakini selama ini. Hehe. Tapi bukankah menyedihkan bila orang menikah karena ingin melarikan diri dari kenyataan. Ingin mencari tempat aman ketika merasa tak sanggup, padahal kan sepanjang hidup memang selalu ada tantangan. Hal ini menjadi menyedihkan karena pernikahan bisajadi tidak memberikan solusi, karena hanya menambah masalah dan beban baru. Hiks.
Pernikahan karena kewajiban bisa macam-macam. Misalnya karena di jodohkan akhirnya menjadi sebuah keharusan. Atau menikah karena kewajiban disebabkan KTD (kehamilan tidak direncanakan). Ini yang lucu sebenarnya. Jadi misalnya ada pasangan yang pacaran terus ternyata si cewek hamil. Nah keluarga mereka pasti menuntut supaya mereka menikah. Padahal bisa jadi si cewek ini berpikir bahwa kalau untuk pacaran sampai berhubungan seks dengan si cowok itu bisajadi menyenangkan, tapi belum tentu menikah dengan sicowok merupakan cita-citanya. Atau sebaliknya. Hehe, karena ya akhirnya nantinya pernikahan mereka hanya begitu saja, menikah karena alasan yang salah dan sepanjang pernikahan akan menjadi sebuah kesalahan.
Pernikahan karena kewajiban yang lain adalah karena sebuah ide. Misalnya dogma bahwa kalau tidak menikah nanti imannya tidak sempurna. Akhirnya menikah dengan siapapun yang ada, bahkan mungkin berdasarkan rekomendasi orang lain. Hal yang menyedihkan adalah ketika pernikahan hanya membenarkan sebuah ide yang sebenarnya bisa di otak atik. Atau bahkan menikah karena takut dianggap aneh oleh masyarakat. Baik bagi perempuan yang takut dibilang perawan tua dan tidak laku atau laki-laki yang takut di ejek masyarakat karena tidak memiliki keturunan atau membujang hingga tua. Ini bentuk “pemaksaan” pernikahan secara tidak langsung, karena bentuknya tidak terlihat namun ada di masyarakat. Dan tentu saja ini mengerikan. Mengerikan karena orang akhirnya menikah dengan siapapun yang ada, bahkan orang pertama yang mengajaknya menikah karena takut tidak ada yang lain yang mau. Waduhh.
Bukankah pernikahan harusnya lebih dari pada keterkungkungan, keterpaksaan, atau kewajiban. Mungkin Saya yang kebanyakan baca novel romance yang akhirnya membuat Saya memiliki ekspektasi terlalu tinggi pada pernikahan. Hehe. Tapi ya optimis itu harus. Bahwa harusnya pernikahan itu membawa kebahagiaan, bukannya mencari-cari alasan dan permakluman untuk pernikahan yang ternyata tidak bahagia. 

Komentar

  1. Keren tulisannya, ulasan menarik dan sangat kritis tentang mslh prnkhn yg slm ni hmpr kalau dk jdi bahan perdebatan, ya bahan ejekan soal sgra dan tidaknya menikah di kalangan muda mudi brdsrkan ulasan dlm tulisannya mbak,,mantab. Sharing jg dong di www.turmuzitur.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Kak Turmuzi atas resposnya ke opini saya. Mohon maaf baru melihat komentarnya karena blog ini lama tidak aktif. Salam kenal kak, blognya menarik membahas kondisi masyarakat Lombok, kebetulan sama-sama dari Lombok :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pegawai Negeri itu Pelayan Rakyat dan Dibayar juga sama Rakyat!!

Mari Bertanya!

Apa Kabar Pers di Indonesia?