Tentang Harapan

Kalo katanya Dewi Lestari di Novel Partikel, “manusia itu dirancang untuk terluka”

Akhirnya saya membaca serial supernova setelah sekian lama mencoba “menghindar” demi ketentraman jiwa,,, haha. Soalnya kalo baca satu pasti ketagihan pengen baca buku yang lain. Tapi ternyata godaan untuk membaca supernova tidak bisa dihindari.. hehe.
Membaca partikel membuat saya berfikir tentang tujuan. Kegelisahan saya selama ini yaitu tentang konsep “pulang”. Kita berfikir bahwa pulang itu adalah kembali ke tempat kita berasal. Tapi ketika tempat kita berasal ternyata merupakan sumber kesakitan, apakah bisa disebut pulang.
...
Yang membedakan manusia dengan binatang adalah dia memiliki akal dan perasaan. Tapi akhirnya saya berfikir lagi, apakah akal dan perasaan itu sebuah anugerah, atau malah kutukan bagi manusia. Akal ini menyebabkan manusia berfikir bahwa dia menjadi pusat segalanya, sangat antroposentris. Alam dianggap sebagai “miliknya”, atau bisa digunakan sesuai keinginannya. Akhirnya ekspliotasi terhadap sumberdaya alam terjadi. Bencana alam terjadi bukan karena alam itu sendiri, tapi karena dipicu oleh manusia yang serakah dan mengeksploitasinya.
Saya termasuk orang yang mengagungkan perasaan. Bahwa perasaan manusia itu merupakan sesuatu yang hebat, bahwa kita bisa memiliki kepekaan terhadap sesuatu. Rasa itu bisa sedih, marah, bahagia, dan sebagainya. Tapi manusia sulit untuk mengontrol rasa.
Novel partikel itu memberikan gambaran kepada saya perbandingan antara manusia dan orangutan. Orangutan bisa sangat menyayangi, memercayai dan bergantung pada seseorang. Tapi ketika saatnya tiba untuk berpisah, dia akan bisa bertahan dan menghadapi masa depan tanpa orang itu dengan bahagia, namun tetap mengingat orang tersebut tanpa ada luka. Dia akan mengenangnya dengan senyum bahagia dan terimakasih.
Tapi manusia tidak begitu. Manusia akan terikat dan tidak bisa hidup tanpa orang yang menjadi objek ketergantungannya. Entah itu pasangan, orangtua, saudara dan teman. Rasanya begitu sakit ketika harus terpisah.
...
Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti pelatihan konseling untuk perempuan dan anak korban kekerasan. Saya belajar bahwa perasaan manusia ditentukan oleh apa yang dipikirkan. Jadi perasaan bisa “dikontrol”. Hal ini terlihat dari banyaknya buku “berpikir positif” yang laris dijual untuk orang-orang stres yang butuh motivasi. Jadi yang dipelajari adalah bagaimana berpikir positif, bukan berperasaan positif.
Akhirnya, apapun yang dilakukan manusia, dia tidak hanya menggunakan akal saja. Tapi juga perasaan. Manusia yang hanya menggunakan akal dalam melakukan sesuatu itu seakan robot. Tapi menggunakan perasaan berarti manusia akan berakhir pada luka.
Manusia memang tidak bisa menghindari luka. Namun bisa memilih untuk menderita. Jadi, apapun yang kita lakukan sudah seharusnya melibatkan perasaan. Kalaupun perasaan kita terluka dalam prosesnya, maka kita bisa memilih untuk berfikir positif bahwa masih banyak kebahagiaan dan kesempatan. Menyadari luka itu memang ada, dan memeluk masa lalu sebagai pengalaman. Ya harus diakui, bahwa pengalaman memang guru yang paling kejam. Pengalaman membuat kita merasakan sakitnya kegagalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pegawai Negeri itu Pelayan Rakyat dan Dibayar juga sama Rakyat!!

Mari Bertanya!

Apa Kabar Pers di Indonesia?