Batas Antara Keinginan dan Kenyataan



“Antar keinginan dan kenyataan memang berbeda. Tapi kita harus punya keinginan untuk menghadapi kenyataan” (Jaleswari)

Rabu malam kemarin, Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (KAPSTRA) menyelenggarakan diskusi film BATAS. Film yang cukup menarik untuk ditonton. Apalagi bagi orang-orang yang aktif dan mau belajar tentang pengorganisasian masyarakat, kebijakan sosial yang kontekstual, dan bagaimana mengelola CSR. Film yang disutradarai oleh Rudi Sudjarwo ini cukup menggambarkan bahwa dalam membuat dan melaksanakan kebijakan sosial, kita harus mengetahui dengan jelas kondisi masyarakat setempat.
Latar belakang film ini adalah wilayah di Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia. Banyak sekali masalah yang diungkapkan film ini, mengenai kompleksnya masalah warga negara Indonesia yang tinggal di perbatasan. Mulai dari tertinggalnya pembangunan, kurangnya fasilitas sanitasi, eksploitasi hutan oleh pengusaha dari kota, rendahnya kesadaran tentang pendidikan, dan rendahnya kualitas pendidikan disana,hingga masalah buruh migran ilegal.
Film yang di bintangi oleh Marcela Zalianty sebagai tokoh pengelola CSR ini terkejut-kejut karena ternyata apa yang menurut orang Jakarta (pusat) baik, belum tentu mudah diterima oleh masyarakat. Film ini juga menggambarkan, bahwa ketika kita ingin menjadi seorang pengorganisasi masyarakat dan menjadi utusan dari program CSR (Corporate Social Responsbility) perusahaan maka harus siap menghadapi segala macam hambatan dan tantangan. Bahkan mungkin, film ini menggambarkan baru sedikit dari dinamika di masyarakat. Ini karena film ini hanya menggambarkan proses pengorganisasian di masyarakat Dayak saja. Sedangkan Indonesia Raya ini masih luas lagi yang berarti dinamika, tantangan dan hambatan di tempat lain juga tentu berbeda.
Ketika menjadi seorang pengorganisasi masyarakat, kita harus menyiapkan diri, terutama niat. Karena, bila kita ingin mendapatkan uang, kenyamanan, kekuasaan, prestise dan pujian dari orang, lebih baik mundur dari menjadi pengorganisasi masyarakat. Itu karena, ketika menjadi pengorganisasi masyarakat membutuhkan energi, tenaga, waktu bertahun-tahun hingga mungkin gaji yang tidak pasti. Bahkan mungkin harus mengorbankan kenyaman dan keinginan pribadi.
Dalam film ini, diceritakan ketika baru berangkat menuju tempat tujuan membutuhkan waktu berjam-jam hingga bermalam di jalan, yang jalanannya tidak bagus dan berbahaya. Belum sampai pun sudah harus kelelahan di perjalanan. Apalagi bila si pengorganisasi masyarakat terbiasa hidup nyaman di rumah perkotaan. Ketika sampai di daerah tujuan, ternyata untuk mandi dan buang air harus di sungai beramai-ramai dengan masyarakat yang lain. Tentu bagi yang tidak terbiasa ini akan sangat tidak nyaman dan mengganggu ketenangan kita. Ya.. bayangin aja bila ingin buang air kecil tengah malam dan harus ke sungai.
Seorang pengorganisasi masyarakat harus siap menghadapi perubahan pola hidup. Dan akhirnya, kita juga dituntut untuk beradaptasi dengan adat istiadat yang ada disana. Bahkan, dalam film ini juga digambarkan bahwa bisa jadi banyak orang yang merasa terganggu dengan program yang ingin dibuat. Misalnya, digambarkan bahwa si tokoh ini sampai di kirimkan binatang mati ketika tidur, itu menunjukan bahwa si tokoh disuruh pergi dari tempat itu.
Hal yang menarik adalah ketika ternyata banyak hal yang tidak kita pahami. Bahwa apa yang kita inginkan, belum tentu relevan untuk dilakukan. Ketika turun ke masyarakat, kemampuan yang harus di miliki oleh seorang pengorganisasi masyarakat adalah kemampuan untuk memahami makna dibalik fakta yang terlihat. Serta, yang terpenting adalah bagaimana mencari pendekatan yang cocok untuk masyarakat tersebut. Ini karena masyarakat setempat memiliki cara berpikir dan pengalaman sendiri, serta sistem masyarakat sendiri. Yang belum tentu salah dan harus kita perbaiki. Tapi bagaimana kita bisa menggunakan pendekatan yang ramah dan mudah diterima oleh masyarakat. Serta tidak menjadikan masyarakat hanya menjadi objek dan menerima-menerima saja program yang ingin kita lakukan.
Kesuksesan seorang pengorganisasi masyarakat bukan ketiaka dialah yang terkenal dan menjadi populer karena kegiatan pemberdayaan itu. Tapi kesuksesannya adalah ketika masyarakatlah yang menjadi subjek dalam menyelesaikan masalahnya dan masyarakatlah yang menjadi populer. Ketika melakukan kegiatan pemberdayaan, sangat penting untuk melibatkan aktor lokal. Aktor lokal yang mempunyai antusiasme, kesadaran dan mau belajarlah yang akan menjadi penggerak untuk membuat perubahan di masyarakatnya. Ini karena sang aktor lokal ini familier dengan lingkungan dan masyarakat disana. Serta, mereka juga akan terus bersama-sama dengan masyarakat tersebut.
Akhirnya, ketika melaksanakan program pemberdayaan dimasyarakat, kita harus menjadikan masyarakat sebagai subjek dan objek dari program itu. Diperlukan rasa memiliki dan rasa membutuhkan dari masyarakat sehingga program bisa berjalan dengan baik. Masyarakat juga tidak boleh hanya menuntut saja pada perusahaan yang memberikan bantuan. Tapi harus ada peran aktif dari masyarakat untuk mengubah nasibnya sendiri. Sehingga, peran dari pengorganisasi masyarakat yang diutus oleh perusahaan adalah memantik dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat agar mandiri.
Harapannya, setelah suatu kelompok masyarakat menerima bantuan melalui kegiatan pemberdayaan, masyarakat bisa mandiri. Sehingga sangat salah bila program CSR dari suatu perusahaan hanya memberikan uang atau barang saja pada masyarakat. Hanya supaya masyarakatnya tidak protes dan mengganggu kegiatan perusahaan. Namun harus lebih jauh dari itu. Program CSR perusahaan melalui program pemberdayaan harus mampu membantu masyarakat untuk bisa menyelesaikan masalahnya dan tidak ketergantungan. Serta menjadikan masyarakat BERDAYA, bukan diperdaya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pegawai Negeri itu Pelayan Rakyat dan Dibayar juga sama Rakyat!!

Mari Bertanya!

Apa Kabar Pers di Indonesia?