Sampai Kapankah idealisme ini hidup?!
Kalau dalam usia 20
Anda tidak kiri, Anda tidak punya hati. Dan kalau sudah berumur 40 Anda masih
kiri, Anda tidak punya otak. (Arief Budiman)
Ketika kita melakukan kritik terhadap
seseorang, pemikiran, dan suatu kebijakan, kita harus belajar dan melihat dulu
tentang sesorang, pemikiran dan kebijakan itu. Salah satunya saya penasaran,
kok bisa paham liberalisme dan kapitalisme bisa berjalan dan di sukai banyak
negara. Termasuk Indonesia, kenapa kebijakan-kebijakan yang condong ke neoliberal
muncul dan banyak yang mengkritik. Akhirnya saya membaca beberapa literatur
tentang paham ini. Dan ternyata....
Saya sering tertawa ketika membaca
buku-buku tersebut. Salah satunya, buku Membela Kebebasan yang diterbitkan oleh
Freedom Institute. Buku ini berisi tulisan tokoh-tokoh Indonesia berkaitan
pandangan merka tentang kebebasan (paham liberal). Tokoh-tokoh itu seperti
Rizal Mallarangeng, Anies Baswedan, M. Chatib Basri, Ulil Abshar Abdala, dll.
Buku ini cukup blak-blakan menyampaikan bahwa paham liberal itu tidak buruk,
bahkan itulah solusi dari masalah sosial, ekonomi, hukum, dan sebagainya. Dan
itu sangat berlawanan dengan ilmu yang dicekoki oleh dosen-dosen saya di
kampus.
Kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan
dan keinginan pribadi itu adalah manusiawi. Menurut buku itu. Malah, memberikan
bantuan dan spesialisasi kepada beberapa kelompok masyarakat agar menjadi
sejahtera tidaklah membantu mereka. Malah membuat mereka menjadi kelompok yang
manja dan tidak berusaha keras. Karena, seharusnya orang mendapat kenyamanan
dan kenikmatan harus sesuai dengan usaha keras, proses belajar dan berjuang,
serta waktu dan tenaga yang dikeluarkan. Sangat tidak adil bila ada beberapa
kelompok yang diberikan kesempatan khusus, sedangakn orang lain berusaha dengan
keras.
Yaa... mungkin saya bisa jadi sepakat
kalau semua orang harus berusaha keras untuk mencapai keinginannya. Namun, yang
bermasalah adalah ketika beberapa kelompok masyarakat “dipaksa” menjadi
kelompok yang marjinal dan sengsara dikarenakan sistem yang tidak adil. Melihat
realitas di masyarakat saat ini, bisa dibilang saya merasa bahwa masih banyak
orang yang tidak bisa mendapatkan haknya sebagai manusia. Dan hal itu bukan
atas pilihan mereka.
Masih banyak orang yang miskin,tidak
bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Tapi disisi lain, ada orang yang hidup
berlebihan bahkan bisa berfoya-foya tanpa memperdulikan orang yang membutuhkan.
Hal yang menyedihkan adalah, bila orang-orang yang hidup berlebihan ini mendapatkan
kenikmatannya itu dengan cara yang tidak sehat. Mulai dari pejabat yang korupsi
tapi belum ketahuan, para pengusaha yang memonopoli pasar, pengusaha yang berselingkuh
dengan pejabat untuk menguasai sumber daya alam tertentu, dan sebagainya.
Di antara teman-teman di gerakan
mahasiswa, sebagian besar berpendapat bahwa sistem Indonesia yang katanya
demokrasi pancasila namun realitasnya liberal ini sangat tidak adil. Bahkan
sebentar lagi pemilu, dan banyak yang malas mengikuti pemilu karena walaupun
para politisi banyak yang memberikan janji-janji kedaulatan rakyat dan ekonomi
kerakyatan, banyak yang tidak percaya.
Hal itu karena itu hanya janji-janji
saja, berdasarkan pengalaman yang sebelum-sebelumnya. Ini karena para politisi
ketika masuk ke parlemen mendapat banyak tuntutan tidak hanya dari rakyat, tapi
juga para konglomerat, partai dan golongannya. Akhirnya yang terpenting ketika
masuk ke parlemen atau eksekutif adalah bagaimana mencari dana balik modal
ketika kampanye, mencari proyek untuk kepentingan partai, hingga kelompoknya.
Dan rakyat akhirnya hanya dapat sisa-sisa. Itu tidak aneh, karena semua orang
punya kepentingan masing-masing.
Akhirnya saya berpikir, mungkinkah
ini yang dihadapi oleh kakak-kakak angkatan dari Fisipol, atau lebih luas UGM
yang sekarang telah menjadi tokoh dan memiliki kekuasaan. Dulu ketika mereka
masih mahasiswa, mereka adalah orang paling depan yang mengkritiki pengusa saat
itu. Mereka berdiskusi, belajar dan berteriak-teriak memperjuangkan
kesejahteraan rakyat. Kita bisa bilang mereka dulu juga menghabiskan tenaga,
pikiran, dan uang mereka untuk berjuang. Ketika mereka berusia 20 tahunan.
Haha.. dan saya saat ini juga berusia 20 tahun kurang 5 bulan, bisa dibilang,
saya juga menggunakan hati ketika melihat ketimpangan yang terjadi di
masyarakat. Dan saya pun saat ini rela mengorbankan apapun untuk berjuang. Hehee.
Tapi, ketika melihat para tokoh yang
dulu adalah lulusan dari kampus yang sama dengan saya. Serta mereka juga adalah
aktivis-aktivis yang getol dalam berjuang juga, mereka dulu pemimin-pemimpin
organisasi gerakan, dan sebagainya. Namun, saat ini mereka terbelenggu dalam
sistem pemerintahan dan ternyata “lupa”pada perjuangannya dulu, Terbukti dari
realisasi program dan kebijakan yang tidak jelas hasilnya. Terlihat juga dari
undang-undang yang mereka rumuskan dan ternyata tidak memihak pada rakyat, tapi
lebih menguntungkan mereka, kelompoknya, dan pasar saja. Kesimpulannya, mereka
tidak menjadi kiri lagi. Mungkin mereka tidak lupa pada perjuangannya dulu,
tapi mungkin mereka memang memiliki otak seperti katanya Arief Budiman. Haha.
Tapi apakah polanya selalu seperti
itu? apakah idealisme itu hanya ketika menjadi mahasiswa saja? lalu untuk apa
semua perjuangan ini bila akhirnya kita juga akan terjerumus dalam sistem yang
tidak memihak orang-orang yang tidak sejahtera karena sistem, bukan karena
pilihannya sendiri.
Komentar
Posting Komentar