Kapan Indonesia “Bersih”?



Kemarin malam Saya berkunjung ke salah seorang ketua RW di jalan kaliurang km 12. Tujuan awalnya adalah ingin lebih mengenal lingkungan yang dipimpin bapak itu. Kebetulan desa bapak itu akan menjadi tempat belajar dan mengabdi saya dan teman-teman dari FISIPOL UGM. Selain lebih mengetahui kondisi masyarakat disana, banyak hal menarik lain saya temukan. Ternyata memang benar, sangat sedikit yang kita pelajari dari kuliah di dalam kelas. Ketika berbicara langsung dan melihat kondisi di masyarakat, banyak hal yang tidak kita bayangkan di bangku kuliah ternyata terjadi.
Namun, di tulisan ini saya ingin bercerita beberapa hal yang membuat saya agag miris. hehe, ini ada kaitannya dengan pemilu yang sebentar lagi dilaksanakan. Pak RW ini bercerita bahwa sampai sekarang, ternyata belum pernah ada sosialisasi tentang pemilu dari KPU untuk masyarakat. Padahal pemilu sudah sangat dekat. Tapi masyarakat belum mendapat pengetahuan tentang betapa pentingnya pemilu dan bagaimana memilih pemimpin yang benar-benar baik untuk menjadi wakilnya di parlemen. Kalau kampanye partai dan caleg ya sudah banyak. Tapi, itu pun mereka hanya datang untuk meminta suara saja, “coblos nomor ini ya”. Hanya begitu saja. Bahkan KPPS terdiri dari 5 orang, yang mendapat sosialisasi hanya 2 orang saja. Sedangkan yang 3 orang tidak mendapat sosialisasi. Ya alasannya sih tidak ada anggaran. Entahlah.
Ketika kami bertanya adakah money politik yang masuk di desa ini? Bapaknya tertawa sinis. Beliau bercerita, bahwa semua kandidat dari partai apapun itu sama. Semuanya pake bagi-bagi uang. Jadi hal itu tidak perlulah di umbar-umbar dan diributkan. Karena politik uang sudah menjadi kebiasaan dan rahasia umum. Malah sangat berbahaya bila politik uang itu dilaporkan.
Bapak itu menasehati kami. Kalian itu lebih baik melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti ini. Lebih berarti bila melakukan program-program yang bisa membantu masyarakat sepeti ini (maksudnya pembinaan dan pendampingan masyarakat). Daripada kalian demo-demo tidak ada yang dengar, DPR ato eksekutif itu tidak peduli biar kalian demo. Lalu bila kalian ini mau melaporkan dan mengusut masalah politik uang, nanti kalian tidak jadi kuliah. Karena itu akan mengganggu kepentingan orang-orang elite.
Kalian ingat tidak kasusnya Udin, dan orang-orang lain yang mencoba membongkar masalah seperti ini. Mereka mati di tembak oleh orang yang tidak dikenal. Dan kasusnya pun tidak pernah selesai sampai sekarang. Jadi sangat berbahaya bila ingin mengusut masalah seperti ini. Kalian bisa-bisa diteror oleh orang-orang yang merasa terganggu.
Kemudian beliau mengatakan bahwa, saat ini Indonesia belum saatnya untuk bersih. Indonesia akan bersih ketika anak-anak yang masih kecil-kecil sekarang telah menjadi sarjana. Ketika anak-anak ini menjadi generasi baru yang cerdas dan paham akan kondisi. Saat itulah Indonesia akan menjadi bersih.
Mungkin bapak ini bisa jadi benar. Entahlah. Tapi bagaimanapun, kita harus tetap bergerak. Apapun bentuk gerakannya. Mungkin melalui kegiatan pengabdian dan pendidikan di masyarakat bisa jadi mempercepat Indonesia menjadi negara yang bersih dan cerdas. Banyak hal yang bisa dilakukan. Sambil bergerak, sambil menyimak. Melihat bagaimana generasi muda nantinya menggantikan generasi tua yang korup ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pegawai Negeri itu Pelayan Rakyat dan Dibayar juga sama Rakyat!!

Mari Bertanya!

Apa Kabar Pers di Indonesia?